Waspada Hasutan Demonstrasi Anarkis Di Media Sosial

Demonstrasi anarkis yang terjadi beberapa hari belakangan ini, salah satunya dipicu lewat media sosial. Masyarakat diharapkan tidak terpengaruh.

Kita tahu kerusuhan yang terjadi pasca insiden rasialis di jawa timur disebabkan oleh apa, dan kita paham siswa STM yang mengikuti demo disebabkan karena apa, kedua hal tersebut tentu bisa dijawab dengan 1 jawaban, yaitu ajakan di media sosial.

Tak ada kerusuhan tanpa provokator, media sosial dapat menjadi wadah untuk memprovokasi dan menghasut puluhan hingga ratusan orang untuk memanaskan situasi dengan informasi yang beredar, para provokator akan merasa puas jika massa yang turun ke jalan juga ikut menghasut peserta yang lain, sehingga terciptalah chaos.

Bukan hanya di Indonesia, beberapa peristiwa dunia terkait juga dipengaruhi oleh informasi yang berkembang di media sosial. Seperti kerusuhan di Mesir yang berujung pada lengsernya Presiden Hosni Mubarak, perubahan yang terjadi di Tunisia, dan kerusuhan yang terjadi di Moldova. Ke semua negara tersebut ikut mengalami kekerasan dan anarkisme, instabilitas pemerintahan bahkan berujung pada krisis berkepanjangan di seluruh sektor kehidupan bermasyarakat.

Kekerasan yang dipicu oleh hasutan di media sosial memang cukup meresahkan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Keterbukaan dan kebebasan akses ruang publik, justru menjadi bumerang bagi negara itu sendiri.

Pada 2017 lalu Kemenkominfo juga sempat menutup saluran Telegram karena media tersebut ditengarai menjadi media favorit yang digunakan kelompok radikal terorisme (ISIS) dalam menyebarkan doktrinasi, hasutan sampai dengan ajakan pelatihan merakit bom.

Kemenkominfo juga menyampaikan bahwa peningkatan penyebaran konten negatif di media sosial begitu massif diantaranya berupa konten ujaran kebencian, fitnah dan berita bohong (hoax).

Rentetan kejadian yang berujung pada kerusuhan tersebut tentu menjadi peringatan untuk kita bersama. Jangan sampai IT menjadi wabah bagi keberlangsungan berbangsa dan bernegara kita. Semestinya perkembangan teknologi dan informasi dapat memberikan dampak positif kepada masyarakat dan munculnya media sosial di era milenial ini semestinya dapat memudahkan manusia dalam bersilaturahmi maupun mempererat hubungan dengan orang lain, bukan lantas menambah rasa benci dan permusuhan antar sesama.

Jangan sampai justru kemunculan media sosial ini malah akan merusak harmonisasi sosial, apalagi sampai menghancurkan tatanan bernegara yang sudah terbangun selama ini. Tentu patut menjadi renungan bagi seluruh anak bangsa, media sosial tanpa kecerdasan penggunanya justru hanya akan menjadi “media kesialan” yang dapat merusak segala hal, baik itu pengguna media sosial, maupun harmoni masyarakat bangsa.

Di sisi lain, Media sosial juga dituding sebagai permasalahan yang menyebabkan meningkatnya masalah kesehatan mental pada remaja akhir – akhir ini.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto menyebutkan bahwa berbagai elemen, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga suporter pun dihasut untuk berhadapan dengan aparat.

Ia menjelaskan gelombang baru yang dimaksudkan dilakukan oleh kelompok yang ingin menciptakan suasana chaos dengan melibatkan sejumlah kelompok masyarakat.

Wiranto mencontohkan demonstrasi mahasiswa dan pelajar di Gedung DPR beberapa waktu lalu, yang berujung ricuh karena ada hasutan dari kelompok yang ingin menciptakan suasana rusuh.

Mereka memprovokasi pelajar untuk berhadapan dengan aparat keamanan, dengan harapan muncul korban dan mempersalahkan aparat keamanan. Setelah polisi menangkap sebagian pelajar, salah seorang pelajar yang tertangkap mengaku mengikuti aksi demonstrasi tersebut karena ajakan di media sosial.

Tentunya kita harus tetap waspada dengan berbagai seruan di media sosial, dimana beberapa hari terakhir kondisi politik nasional terus memanas pasca mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa di sejumlah kota. Tidak hanya di Jakarta, demonstrasi juga berlangsung di sejumlah kota besar, seperti Bogor, Bandung, Medan dan lain sebagainya.

Kita harus dapat membedakan, mana ajakan untuk demonstrasi dan ajakan provokasi untuk melawan aparat, jangan sampai kita terlarut dalam emosi dalam hingar bingar demonstrasi, tanpa mengetahui aspirasi yang disuarakan.

Di Papua provokasi atas pembicaraan seorang guru di sekolah juga menjadi kesialan tersendiri, dimana saat mengajar Guru meminta siswa agar tidak terlalu berbicara keras. Namun kemudian dipelintir omongan guru tersebut menjadi kata kera. Maka beredarlah dalam masyarakat bahwa sang guru mengolok siswanya dengan kata kera. Hasutan tersebut melahirkan kerusuhan yang besar dan terjadi pembakaran terhadap beberapa ruko, kantor PLN, Kantor Bupati dan berbagai kantor lainnya.

Hasutan adalah sesuatu yang berbahaya, ditambah lagi jika hasutan tersebut digaungkan melalui sosial media, tak terhitung sudah berapa banyak netizen yang terpapar hasutan tersebut.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *