UU Cipta Kerja Untuk Kebaikan Bersama

Wakil Ketua umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Pengembangan Pengusaha Nasional Arsjad Rasjid mengatakan pengusaha dan pekerja berada dalam hubungan yang saling membutuhkan.

Hal tersebut disampaikannya pada acara Buka Bersama Kadin di Hotel Adimulia, Medan, Sumatera Utara, Jumat (30/4/2021).

Terkait dengan Hari Buruh yang jatuh pada 1 Mei, calon Ketua Kadin periode 2021-2026 itu pun menyatakan bahwa Undang-Undang (UU) Cipta Kerja yang menjadi kontroversi di banyak kalangan sebenarnya bermanfaat bagi semua pihak, baik pengusaha maupun buruh.

“Inti dari UU tersebut adalah menciptakan lapangan kerja. Dengan bertambah dan semakin banyak lapangan kerja akan mengentaskan kemiskinan,” ujar Arsjad dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Senin (3/5/2021).

Menurut Arsjad, untuk menciptakan lapangan kerja tersebut, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Dibutuhkan bantuan dari para pengusaha yang nantinya akan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.

Selain itu, bisa pula lapangan pekerjaan dibuat dengan menciptakan pengusaha baru. Salah satunya dengan mendorong lahirnya para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) baru.

Sebagai informasi, UMKM berkontribusi 61,1 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor ini juga mampu menyerap 97 persen dari total angkatan kerja atau sekitar 116,9 juta orang.

Arsjad menambahkan, semakin banyak pengusaha, semakin banyak pula lapangan kerja baru yang dibuka. Pelaku UMKM pun kemudian berfungsi sebagai fondasi kokoh yang dapat membantu percepatan pemulihan ekonomi masyarakat.

“UU Cipta Kerja ujung-ujungnya untuk kebaikan bersama. Kalau dilihat dari konteksnya, (UU Cipta Kerja) akan membantu pekerja untuk bekerja di perusahaan-perusahaan yang disediakan oleh para pengusaha (UMKM) baru tersebut,” kata Arsjad.

Dalam mewujudkan hal tersebut, lanjut Arsjad, diperlukan kolaborasi antara pemerintah dan Kadin untuk melihat permasalahan-permasalahan yang ada di setiap industri dan mengambil kebijakan.

Setiap industri memiliki tantangan yang berbeda. Begitu juga dengan daerah yang memiliki prioritas dan kekayaan alam yang berbeda-beda. Hal tersebut menjadi penting untuk mendesain insentif atau stimulus ekonomi yang berbeda-beda.

“Maka dari itu, satu obat tidak bisa menyelesaikan semuanya. Namun, setiap obat untuk menyelesaikan satu permasalahan,” ujar Arsyad.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *